
Bikin essay ini gara-gara pengen namanya muncul di bukunya Prof Hasbullah Tabrani. Harus nulis minimal 10 halaman dikertas A4. aw aw aw aw...tapi Alhamdulillah jadi juga
Sering terdengar pertanyaan, ”pria boleh merokok tetapi mengapa wanita tidak?”. Kesan negative akan melekat pada wanita bila ia merokok. Padahal merokok merupakan hak setiap orang, baik itu pria, wanita, remaja, anak-anak bahkan hingga lansia. Karena rokok adalah salah satu ekstase kecil yang legal untuk dinikmati. Tetapi kenapa hanya pria (yang dewasa) saja yang benar-benar bisa merasakan ”legalnya” rokok, tidak untuk kelompok lainnya seperti disebut diatas. Berikut ini, penulis akan mencoba membahas mengapa rokok lebih baik dianggap “illegal” oleh masyarakat di salah satu kelompok diatas yaitu wanita dan bagaimana polanya sehingga wanita menjadi perokok saat dewasa.
Wanita selalu terlambangkan dengan kelembutan dan keanggunan. Kesan ini tidak akan pernah hilang pada setiap fase kehidupan wanita. Bahkan profesi apa pun yang digelutinya, tidak akan merubah image wanita sebagai sosok ”malaikat”. Akan tetapi hanya karena sebuah benda kecil dengan panjang mulai dari 70 hingga 120 mm dan berdiameter 10 mm, keindahan wanita tersebut akan luntur secara perlahan. Benda kecil tersebut adalah rokok. Walaupun kecil ukurannya tetapi besar kekuatannya untuk merubah segalanya. Rokok dapat merubah image anggun seorang wanita. Tak hanya image saja yang berganti akibat rokok, kecantikan pun perlahan luntur karena bibir perlahan menghitam dan kulit lebih cepat keriput akibat rokok. Kondisi tubuh yang awalnya sehat perlahan akan mulai didatangi berbagai penyakit akibat rokok seperti batuk-batuk, gangguan pernafasan, kanker paru-paru, kanker tenggorokan, kanker bibir, kanker mulut rahim, penyakit jantung serta gangguan pada kehamilan, janin dan beresiko mendapatkan bayi lahir cacat apabila ibunya adalah perokok. Bahkan menurut Dr. Thea F. Mikkelsen dari University of Oslo yang dikutip oleh kespro.com menyatakan bahwa wanita merokok akan lebih dini mengalami menopause. Selain itu, lingkungan sekitarnya juga akan tertular perilaku ”mengkonsumsi” rokok sebab secara tak langsung wanita adalah role model bagi wanita lainnya dan juga anak-anaknya.
Sebenarnya wanita yang merokok sudah banyak terlihat sejak kebiasaan merokok mulai dikenal luas oleh masyarakat dunia yaitu sekitar akhir abad 19. Hanya saja pada masa tersebut, jumlah wanita merokok lebih kecil dari sekarang. Pada tahun 1920-an, wanita sudah mulai berani menampakan dirinya bersama rokok dimuka umum. Hal ini dilakukan sebagai lambang persamaan hak dan emansipasi (Aditama, 1997). Dan sesuai dengan berkembangnya jaman maka kebiasaan merokok pada wanita terus berkembang. Semakin banyaknya wanita yang merokok, tidak terlepas akibat semakin gencarnya perusahaan rokok melakukan promosi. Propaganda dan iklan rokok ditampilkan dengan menarik. Menurut Nuryati (2008) industri rokok diseluruh dunia mengeluarkan lebih dari US$ 8 miliar setiap tahun untuk iklan dan pemberian sponsor sebagai ajang utama promosi. Sebelumnya promosi rokok lebih menitik beratkan pada pria, dengan terus memberikan kesan bahwa pria yang merokok akan terlihat lebih keren, macho, sporty, berwibawa dan sukses. Tetapi saat ini promosi rokok mulai merambah target baru untuk memperluas pemasarannya, maka wanita adalah sasaran selanjutnya untuk mengkonsumsi rokok. Wanita yang merokok selalu digambarkan sebagai lambang kematangan, kedewasaan, popularitas, kecantikan, sexy dan feminisme oleh promosi perusahaan rokok (Aditama, 1997).
Sebenarnya perilaku merokok pada wanita tidak tiba-tiba datang pada saat dewasa. Menurut WHO (1992) wanita yang merokok saat dewasa biasanya saat remaja sudah merokok pula. Dimana saat remaja rasa ingin tahunya tinggi, masih mencari-cari pengalaman, senang mencoba-coba dan merasa tertantang dengan hal baru. Bahkan berdasarkan riset yang dilakukan Koalisi Indonesia Sehat (KuIS) yang dikutip oleh Nuryati (2008), diketahui 88,78% dari 3.040 pelajar SMP putri hingga mahasiswi (yang usianya berkisar 13-15 tahun) adalah perokok. Mereka mengkonsumsi 1-10 batang rokok dalam hidup mereka. Tetapi tidak jarang pula perilaku merokok dimulai pada saat anak-anak. Hal ini di buktikan oleh Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia yang pada tahun 2006 melaporkan bahwa tiga dari sepuluh pelajar Indonesia pertama kali merokok pada usia dibawah seputuh tahun. Hal yang sama juga terlihat pada hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) ditahun 2007, dimana jumlah perokok pemula yang berusia 5-9 tahun meningkat 400% yakni dari 0,8% (2001) menjadi 1,8% (2004). Bila semakin muda usianya saat memulai merokok maka semakin sulit terlepas dari pengaruh rokok saat dewasa.
Sepintas akan terlihat kesamaan pola pada perilaku merokok pada pria dan wanita. Hanya saja setelah dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap faktor-faktor yang mendorong untuk merokok terdapat sedikit perbedaan terhadap pola merokok pria dan wanita. Singkatnya, wanita lebih menganggap rokok layaknya pelengkap/asesoris seperti kalung, gelang, jam dan sebagainya juga sebagai pengontrol diri. Sedangkan pria menganggap rokok sebagai bentuk pencitraan diri mereka. Menurut WHO (1992), faktor yang mendorong remaja puteri untuk memulai merokok hingga menjadi dewasa yang perokok antara lain faktor sosial-kultur (sociocultural factor), faktor yang timbul dari diri sendiri (personal factor) dan pengaruh lingkungannya (environmental factor).
Faktor sosial-kultur (sociocultural factor) adalah pengaruh yang datang dari kehidupan seharinya dan budaya setempat, antara lain : kemudahan akses memperoleh rokok, adanya pengaruh orang tua dan pengaruh teman sepermainan. Negara Indonesia termasuk negara yang paling mudah untuk memperoleh rokok. Rokok dijual dengan bebas disemua wilayah, bahkan di lingkungan yang seharusnya tidak diperbolehkan terdapat rokok pun seperti sekolah dan rumah sakit dapat dengan mudah ditemukan penjual rokok. Hasil survei KuIS menunjukkan bahwa 34,75% perempuan usia 13 hingga 15 tahun mengaku mudah mendapatkan rokok, baik dari promosi maupun warung terdekat. Akibatnya lebih dari 88,78% wanita muda pernah merokok. Bahkan yang lebih membuat hati miris adalah saat anak-anak sekolah dasar yang masih berseragam dapat dengan mudah membeli rokok diwarung. Kemudahan mengakses rokok ini yang mendukung para perokok pemula untuk mendapatkan rokok.
Wanita secara hakiki dikodratkan menjadi ”pendidik” dalam kehidupannya. Dalam lingkungan keluarga, wanita kelak akan menjadi seorang ibu yang menjadi contoh bagi anak-anaknya kelak. Umumnya, setiap yang dikerjakan seorang ibu pasti akan dilakukan oleh anaknya. Seperti pribahasa ”buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Maka bila didapati seorang ibu yang merokok secara tidak langsung mengajarkan anaknya untuk merokok dan secara tersirat si ibu berkata ”nak, merokok itu baik loh”. Berdasarkan hasil penelitian KuIS yang dikutip oleh Nuryati (2008), orang tua yang merokok berperan sangat besar pada kebiasaan merokok pada wanita. Hal serupa juga diungkapkan oleh Aditama (1997) dimana kemungkinan menjadi perokok akan jauh lebih besar bila orang tuanya juga perokok. Bahkan dari penelitian KuIS ditemukan satu fakta menarik bahwa banyak remaja yang merokok bersama orang tua mereka. Hasil penelitian terhadap 3.040 responden wanita yang berusia 13 hingga 25 tahun ternyata 4,55% menyatakan ”kadang-kadang merokok bersama orang tuanya”. Maka kesimpulan dari penelitian tersebut adalah rata-rata wanita memulai merokok pada saat remaja di usia 14-15 tahun serta terdapat 7% wanita muda yang sudah menjadi perokok aktif.
Memiliki teman-teman yang merokok merupakan faktor amat penting bagi seorang remaja puteri untuk memulai merokok. Menurut WHO (1992), banyak remaja puteri memulai merokok akibat pengaruh teman sepermainan mereka. Bahkan sekitar 75% pengalaman pertama menghisap rokok pada remaja biasanya dilakukan bersama teman-temannya. Ketakutan bila ditolak keberadaannya, akan diisolasi dan diabaikan oleh teman-temannya membuat remaja ikut-ikutan merokok. Dilain pihak, remaja yang tidak merokok biasanya memiliki teman yang tidak merokok juga. Hal ini karena, teman-temannya membantu membangun kepercayaan diri antar sesama dan memperlihatkan bahwa tanpa rokok mereka bisa bersama-sama pula.
Faktor yang timbul dari dalam dirinya sendiri (personal factor) hal terkental yang dapat membuat sesorang memutuskan untuk merokok atau tidak. Hal ini terutama akan lebih mempengaruhi pada saat remaja, dimana masih mencari bentuk jati diri. Remaja putri memulai merokok tidak lain karena adanya pengaruh image-image yang dipaparkan oleh perusahaan rokok. Dimana perusahaan rokok menekankan bahwa wanita merokok akan lebih sexy, cantik, feminisme dan terlihat lebih dewasa sehingga remaja putri beranggapan bahwa dengan merokok mereka akan memperoleh predikat tersebut (Aditama, 1997). Hal lain yang mendorong remaja puteri untuk merokok yaitu mereka menganggap bahwa dengan merokok dapat menekan rasa gelisah dan stress.
Banyak wanita berpendapat bahwa rokok dapat membuat tubuh mereka lebih langsing sehingga akan merasa lebih percaya diri. Rokok membuat mereka langsing karena merokok sendiri dapat menekan nafsu makan. Semuanya disebabkan rokok membuat mereka menjauh dari makanan dan menekan rasa lapar sehingga membantu dietnya. Ada banyak penelitian yang menemukan bahwa perokok memiliki berat badan yang lebih rendah dari pada mereka yang merokok dan mantan perokok. Walaupun sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi secara langsung efek dari merokok terhadap metabolisme tubuh. Menurut WHO (1992) mengungkapkan sebuah penelitian pada hewan terhadap pengaruh asap rokok dan didapatkan hasil bahwa nikotin meningkatkan metabolisme rate baik pada saat istirahat maupun ketika beraktifitas. Penelitian lain tentang pengaruh asap rokok terhadap nafsu makan yang dilakukan oleh peneliti Melbourne dan Sydney menemukan sebuah senyawa kimia pada otak yang biasa dikenal sebagai neuropeptide Y (NPY) yang biasa bekerja sebagai pengatur nafsu makan ternyata dapat dipengaruhi kerjanya oleh asap rokok. Dimana dari hasil penelitian yang menggunakan tikus sebagai objek percobaan, didapatkan hasil bahwa tikus yang terekspos asap rokok cenderung mengalami penurunan tingkat NPY dalam hypothalamus di otak mereka, terutama bagian otak yang merespon selera makan. NPY secara normal berfungsi untuk meningkatkan selera makan pada otak sehingga peranan NPY sangat penting sekali bagi tubuh. Karena nafsu makan yang turun akibat asap rokok inilah yang sering disalah artikan oleh wanita. Maka teori ”merokok membuat langsing” semakin populer dan menggoda wanita lain yang tak merokok untuk mencoba merokok.
Dewasa ini semakin sering didapati wanita yang bekerja diluar rumah juga merokok. Wanita menjadi lebih banyak tekanan baik dirumah maupun dilingkungan pekerjaan. Akibatnya membuat wanita mudah stress, cemas dan tegang. Tidak jarang, wanita sulit mengungkapkan masalah yang dihadapinya sehingga sering terlarut dalam kesendirian. Hal inilah yang membuat wanita mencoba untuk merokok dengan anggapan rokok dapat digunakan sebagai penangkal stress, meredakan perasaan cemas dan dapat menenangkan jiwa saat sedang banyak masalah. Alasan yang sama juga terjadi pada remaja putri, dimana saat mereka ada masalah dengan teman sebaya atau keluarga, rokok menjadi ”teman” agar mereka melupakan masalahnya. Maka dalam situasi seperti inilah dibutuhkan peran serta ibu untuk menemani putrinya.
Faktor lingkungan (environmental factor) yang mendukung untuk merokok yaitu semakin gencarnya iklan promosi rokok. Seperti yang dapat dilihat disekitar kita saat ini, rokok sudah bagaikan raja dalam setiap acara. Perusahaan rokok rela mengeluarkan dana yang besar agar produk mereka dapat menjadi sponsor suatu acara. Hal ini tentu saja digunakan untuk lebih memasyarakatkan rokok. Bahkan acara-acara olahraga saat ini banyak menggunakan perusahaan rokok sebagai sponsor utama. Sehingga kesan negative pada rokok perlahan luntur dalam masyarakat. Dalam acara-acara yang disponsori rokok, biasanya perusahaan rokok akan menyediakan rokok secara cuma-cuma sebagai sampel pada setiap pengunjung. Hal ini yang membuat perokok pemula mulai mencoba merokok. Dari hasil penelitian KuIS diketahui sebanyak 70% remaja puteri dan wanita melihat promosi rokok ketika acara pentas musik, olahraga dan kegiatan sosial. Sebanyak 10,22% wanita berusia 13-15 tahun dan 14,53% wanita berusia 16-15 tahun pernah ditawari rokok gratis. Sebuah perusahaan rokok internasional di Amerika pernah mengungkapkan ”remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap yang potensial untuk hari esok”. Walaupun ada peraturan pemerintah (PP) No. 19/2003 telah melarang pembagian rokok secara gratis. Tetapi fakta yang ditemui dilapangan masih sering terjadi pembagian kupon diskon bahkan pembagian rokok gratis. Hal ini tentu memudahkan remaja untuk mengakses rokok sehingga perlahan-lahan menjadi perokok.
Pola penjualan rokok di Indonesia yang bisa dibeli secara eceran memudahkan para perokok pemula untuk mengakses rokok. Harga rokok yang murah dan dapat dibeli secara eceran juga mendorong perokok pemula untuk mencobanya. Perokok pemula yang umumnya adalah pelajar merasa dipermudah dengan membeli rokok secara eceran. Harga rokok eceran dijual mulai dari Rp 700,- hingga Rp 1.000,- per batang. Harga tersebut dinilai terlalu murah sehingga dapat dijangkau oleh pelajar yang belum memiliki penghasilan dan masih mengandalkan uang saku pemberian orang tua. Harga rokok yang murah dan adanya rasa penasaran untuk mencoba rokok saling mendukung untuk menjadikan remaja sebagai perokok pemula.
Adanya peraturan pemerintah DKI Jakarta perihal wilayah bebas rokok dinilai dapat menekan jumlah perokok pemula. Karena lingkungan yang penuh dengan perokok turut mengundang seseorang untuk memulai merokok (WHO, 1992). Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa orang tua yang merokok turut mempengaruhi anaknya untuk merokok. Hal ini dapat di wajarkan karena di dalam lingkungan perokok, mereka yang tidak merokok perlahan akan mempelajari cara merokok, mulai dari menyalakan, menghisap, memegang hingga mematikan rokok. Maka wajib hukumnya bila lingkungan sekolah termasuk dalam wilayah bebas asap rokok, karena selain di rumah, remaja menghabiskan sebagian waktunya di sekolah. Hal ini telah dibuktikan pada suatu riset di Amerika, dimana prevalensi merokok pada siswa lebih kecil jika sekolah tersebut menerapkan peraturan wilayah bebas asap merokok dibandingkan sekolah yang tidak memiliki peraturan wilayah bebas asap rokok. Bila di sekolah dibebaskan merokok maka siswanya secara tidak langsung mempelajari bagaimana caranya merokok dari orang-orang yang merokok dilingkungan sekolahnya. Karena hal tersebut berlangsung setiap hari, maka lambat laun siswa akan memulai mencoba rokok.
Saat ini informasi tentang bahaya rokok gencar dilakukan. Pemberian informasi tentang bahaya rokok diupayakan agar perokok lama sadar akan bahaya akan akan dihadapinya dan perokok pemula dapat mengurungkan niatnya untuk mencoba rokok. Hanya saja, mereka yang telah menjadi perokok, baik pria maupun wanita pasti akan merasa kesulitan bila ingin berhenti merokok. Maka bila sejak remaja sudah memulai merokok maka akan menjadi dewasa perokok pula. Menurut WHO (1992) penyebab wanita sulit lepas dari perilaku merokok bisa dilihat dari faktor psikologis dan psikososial. Faktor psikologis yang paling banyak dialami perokok wanita saat memulai gagal berhenti merokok karena adanya rasa kehilangan dari dirinya. Kebiasaan merokok yang telah berlangsung lama ternyata juga membentuk pola tingkah laku tersendiri sehingga saat mulai berhenti merokok akan terasa adanya kehilangan rutinitas sehari-hari. Ada pula yang gagal berhenti merokok dengan alasan adanya rasa kehilangan terhadap suatu benda yang dapat dipegang dan dimainkan. Banyak wanita yang kembali lagi merokok karena merasa berat badannya naik setelah berhenti merokok. Telah dijelaskan dalam paragraf sebelumnya mengapa rokok dapat membuat perokok lebih langsing.
Faktor psikososial yang menyebabkan gagalnya wanita berhenti merokok yaitu adanya kesan bahwa rokok dapat membantu mereka untuk melewati rasa kesepian, sedih, frustasi dan stress. Selain itu, hal lain yang mempengaruhi adalah adanya ketergantungan atau adiksi pada nikotin. Nikotin yang ada dalam asap rokok adalah suatu bahan yang menimbulkan ketagihan atau adiksi. Menurut Aditama (1997), dalam waktu tujuh detik setelah nikotin dihisap maka akan segera mencapai otak dan menimbulkan berbagai reaksi dalam susunan saraf. Kalau orang sudah merokok bertahun-tahun maka kadar nikotin dalam darahnya menjadi cukup tinggi. Maka saat orang tersebut mendadak berhenti merokok yang selanjutnya terjadi yaitu kadar nikotin dalam darahnya akan menurun. Bila nikotin tersebut turun secara drastis maka akan timbul keluhan berupa badan lemah, sakit kepala, gangguan pencernaan, kurang konsentrasi, lesu, sulit berfikir dan lain-lain. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah withdrawal symptom. Kondisi yang bersifat sementara ini yang banyak membuat ”calon” mantan perokok gagal berhenti merokok.
Tidak dapat dipungkiri bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Resiko untuk menderita kanker disisa hidup sebenarnya sudah banyak diketahui oleh perokok. Tetapi tetap saja perokok rela bila dirinya akan menjadi korban akibat rokok yang dihisapnya. Bagi wanita, rokok tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri. Semua wanita memiliki rahim dan akan menjadi ibu disaat dewasa. Maka bila ibunya seorang perokok, kerugian yang didapatkan bukan saja anaknya akan berpeluang merokok seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tetapi saat dalam kandungan pun anaknya juga mengalami berbagai gangguan akibat rokok. Menurut Aditama (1997), pada ibu hamil, rokok yang dihisap akan menggangu oksigenisasi di tubuh janin hal ini karena turut masuknya karbonmonoksida ke peredaran darah ke janin dalam kandungan. Selain itu, gizi ibu perokok menjadi lebih buruk karena karena kebiasaan merokok menekan nafsu makannya. Hal yang lebih parah yang dapat terjadi yaitu terganggunya tumbuh kembang janin karena nikotin merupakan zat vasokonstriktor yang dapat menggangu metabolisme protein dalam tubuh janin yang sedang berkembang, jantung janin juga lebih lambat berdenyutnya dan timbul gangguan pada sistem sarafnya. Kemungkinan terjadinya keguguran (abortus) juga lebih sering, bahkan sering terjadi komplikasi kehamilan. Saat dilahirkan, bayi dari ibu yang perokok berat akan dilahirkan 200 gram lebih rendah dari ibu yang tidak merokok, bahkan juga sering ditemukan kelainan bawaan lahir seperti kelainan pada kantup jantung. Efek buruk pada anak biasanya akan terus berlanjut bila ibunya tidak berhenti merokok. Karena pengaruh bahan-bahan dalam asap rokok seperti co, sianida, tiosinat, nikotin dan karbonik anhidrase, dapat menembus plasenta. Saat mulai menyusui ternyata jumlah dan mutu Air Susu Ibu (ASI) pada ibu perokok lebih rendah. Hal ini karena konsentrasi lemak dan asi menurun bahkan ditemukan adanya zat cotinine (derivat nikotin) dalam ASI hingga air seni bayinya. Saat anaknya beranjak dewasa, ternyata masih menyisakan dampak buruk akibat rokok yang dihisap ibunya. Anak akan mengalami gangguan tumbuh kembang mulai dari gangguan fisik, emosi hingga kecerdasannya. Anak dari ibu perokok memiliki kemampuan membaca dan berhitung yang lebih rendah. Selain itu 20-80% anak dari ibu perokok mengeluh sering batuk, flu dan sering terganggu saluran pernafasannya. Sehingga peluang terjadinya bronkitis dan infeksi paru menjadi dua kali lebih besar pada anak yang beribu perokok. Bahkan tinggi badan anak juga akan lebih pendek beberapa centimeter bila ibunya perokok.
Dari penjabaran penulis tentang wanita vs rokok diatas, maka dapat dilihat bahwa rokok tidak memberikan manfaat sedikit pun pada kehidupan wanita. Apa yang dijanjikan oleh rokok kesemuanya semu dan bersifat sementara. Bahkan rokok memberi dampak yang panjang tidak hanya pada wanita itu sendiri tetapi juga pada anak-anaknya. Mengingat wanita akan menjadi role model bagi anak-anaknya kelak maka akan lebih baik jika rokok tetap dianggap ”illegal” oleh masyarakat bila dikonsumsi oleh wanita. Sehingga rasa malu akan terus membututi wanita bila ia merokok. Diharapkan hal ini dapat menekan prevalensi wanita yang merokok. Semakin sedikit wanita yang merokok maka role model wanita perokok akan sedikit dan semakin sedikit pula anak-anak yang ingin mencoba merokok.
Sebelum cetak, semua ini di edit dulu. Ternyata gaya bahasa saya akademisi sekali katanya. heehee maklum pemula pak
DAFTAR PUSTAKA
1. Aditama, T. Y. 1997. Rokok dan Kesehatan. UI Press. Jakarta.
2. WHO. 1992. Women and Tobacco. WHO. Geneva.
3. WHO. 1996. Evaluating Tobacco Control Activities, Experiences and Guiding Principles. WHO. Geneva.
4. www.bisnis.com/Nuryati, S. 2008. Hampir 90% Wanita Muda Indonesia Merokok.
5. www. Okezone.com/Konserio, A. M. 2008. Survei Banyak Wanita Muda Merokok Dengan Orang Tua.
6. www.kespro.com
7. www.vhrmedia.com/Nugroho, H. 2009. Anak-anak Tersihir Iklan Rokok.
8. www.wikipedia.com