Minggu, 27 Maret 2011

Cinta itu datangnya dari otak atau hati ??


Repost dari http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/113/cinta-itu-ilmiah-kata-ilmuwan


Cinta itu ilmiah, kata ilmuwan

Peneliti dari Syracuse University, Profesor Stephanie Ortigue, menemukan ada 12 area pada otak yang bekerja pada saat seseorang jatuh cinta. Kedua belas area itu menghasilkan bahan kimia, seperti dopamine, oxytocin, adrenalin, dan vasopression, yang berujung pada euforia. Rasa cinta juga memengaruhi fungsi psikologi, metafora, dan penilaian fisik.

Jadi, cinta itu berasal dari hati atau otak? "Pertanyaan yang selalu sulit dijawab. Saya berpendapat asalnya dari otak," kata Ortigue. "Contohnya, suatu proses di otak kita bisa menstimulasi hati. Beberapa perasaan dalam hati kita sebetulnya merupakan gejala atas proses yang terjadi di otak."

Penelitian lain mendapati peningkatan jumlah darah dalam faktor penumbuh untuk syaraf yang memegang peranan penting dalam cara orang bersosialisasi. Hal ini menghadirkan fenomena yang disebut dengan "cinta pada pandangan pertama". Hal ini dikonfirmasi oleh temuan Ortigue yang menyebutkan kalau cinta bisa hadir dalam waktu seperlima detik.

Ortigue menjelaskan dengan memahami cara orang jatuh cinta dan putus cinta, para peneliti bisa mengembangkan terapi baru. "Kita bisa mengerti penyakit putus cinta," kata Ortigue.

Studi Ortigue juga mendapati ada bagian otak yang berbeda untuk tipe cinta yang berbeda. Cinta tanpa syarat, contohnya cinta seorang ibu pada anaknya, dipicu oleh aktivitas otak di bagian umum dan pada tempat yang berbeda-beda, termasuk otak tengah. Cinta yang bergairah antara kekasih melibatkan area kognitif, bagian yang mengharapkan imbalan, dan penilaian fisik.

Senin, 21 Maret 2011

WANITA VS ROKOK


Bikin essay ini gara-gara pengen namanya muncul di bukunya Prof Hasbullah Tabrani. Harus nulis minimal 10 halaman dikertas A4. aw aw aw aw...tapi Alhamdulillah jadi juga




Sering terdengar pertanyaan, ”pria boleh merokok tetapi mengapa wanita tidak?”. Kesan negative akan melekat pada wanita bila ia merokok. Padahal merokok merupakan hak setiap orang, baik itu pria, wanita, remaja, anak-anak bahkan hingga lansia. Karena rokok adalah salah satu ekstase kecil yang legal untuk dinikmati. Tetapi kenapa hanya pria (yang dewasa) saja yang benar-benar bisa merasakan ”legalnya” rokok, tidak untuk kelompok lainnya seperti disebut diatas. Berikut ini, penulis akan mencoba membahas mengapa rokok lebih baik dianggap “illegal” oleh masyarakat di salah satu kelompok diatas yaitu wanita dan bagaimana polanya sehingga wanita menjadi perokok saat dewasa.

Wanita selalu terlambangkan dengan kelembutan dan keanggunan. Kesan ini tidak akan pernah hilang pada setiap fase kehidupan wanita. Bahkan profesi apa pun yang digelutinya, tidak akan merubah image wanita sebagai sosok ”malaikat”. Akan tetapi hanya karena sebuah benda kecil dengan panjang mulai dari 70 hingga 120 mm dan berdiameter 10 mm, keindahan wanita tersebut akan luntur secara perlahan. Benda kecil tersebut adalah rokok. Walaupun kecil ukurannya tetapi besar kekuatannya untuk merubah segalanya. Rokok dapat merubah image anggun seorang wanita. Tak hanya image saja yang berganti akibat rokok, kecantikan pun perlahan luntur karena bibir perlahan menghitam dan kulit lebih cepat keriput akibat rokok. Kondisi tubuh yang awalnya sehat perlahan akan mulai didatangi berbagai penyakit akibat rokok seperti batuk-batuk, gangguan pernafasan, kanker paru-paru, kanker tenggorokan, kanker bibir, kanker mulut rahim, penyakit jantung serta gangguan pada kehamilan, janin dan beresiko mendapatkan bayi lahir cacat apabila ibunya adalah perokok. Bahkan menurut Dr. Thea F. Mikkelsen dari University of Oslo yang dikutip oleh kespro.com menyatakan bahwa wanita merokok akan lebih dini mengalami menopause. Selain itu, lingkungan sekitarnya juga akan tertular perilaku ”mengkonsumsi” rokok sebab secara tak langsung wanita adalah role model bagi wanita lainnya dan juga anak-anaknya.

Sebenarnya wanita yang merokok sudah banyak terlihat sejak kebiasaan merokok mulai dikenal luas oleh masyarakat dunia yaitu sekitar akhir abad 19. Hanya saja pada masa tersebut, jumlah wanita merokok lebih kecil dari sekarang. Pada tahun 1920-an, wanita sudah mulai berani menampakan dirinya bersama rokok dimuka umum. Hal ini dilakukan sebagai lambang persamaan hak dan emansipasi (Aditama, 1997). Dan sesuai dengan berkembangnya jaman maka kebiasaan merokok pada wanita terus berkembang. Semakin banyaknya wanita yang merokok, tidak terlepas akibat semakin gencarnya perusahaan rokok melakukan promosi. Propaganda dan iklan rokok ditampilkan dengan menarik. Menurut Nuryati (2008) industri rokok diseluruh dunia mengeluarkan lebih dari US$ 8 miliar setiap tahun untuk iklan dan pemberian sponsor sebagai ajang utama promosi. Sebelumnya promosi rokok lebih menitik beratkan pada pria, dengan terus memberikan kesan bahwa pria yang merokok akan terlihat lebih keren, macho, sporty, berwibawa dan sukses. Tetapi saat ini promosi rokok mulai merambah target baru untuk memperluas pemasarannya, maka wanita adalah sasaran selanjutnya untuk mengkonsumsi rokok. Wanita yang merokok selalu digambarkan sebagai lambang kematangan, kedewasaan, popularitas, kecantikan, sexy dan feminisme oleh promosi perusahaan rokok (Aditama, 1997).

Sebenarnya perilaku merokok pada wanita tidak tiba-tiba datang pada saat dewasa. Menurut WHO (1992) wanita yang merokok saat dewasa biasanya saat remaja sudah merokok pula. Dimana saat remaja rasa ingin tahunya tinggi, masih mencari-cari pengalaman, senang mencoba-coba dan merasa tertantang dengan hal baru. Bahkan berdasarkan riset yang dilakukan Koalisi Indonesia Sehat (KuIS) yang dikutip oleh Nuryati (2008), diketahui 88,78% dari 3.040 pelajar SMP putri hingga mahasiswi (yang usianya berkisar 13-15 tahun) adalah perokok. Mereka mengkonsumsi 1-10 batang rokok dalam hidup mereka. Tetapi tidak jarang pula perilaku merokok dimulai pada saat anak-anak. Hal ini di buktikan oleh Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia yang pada tahun 2006 melaporkan bahwa tiga dari sepuluh pelajar Indonesia pertama kali merokok pada usia dibawah seputuh tahun. Hal yang sama juga terlihat pada hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) ditahun 2007, dimana jumlah perokok pemula yang berusia 5-9 tahun meningkat 400% yakni dari 0,8% (2001) menjadi 1,8% (2004). Bila semakin muda usianya saat memulai merokok maka semakin sulit terlepas dari pengaruh rokok saat dewasa.

Sepintas akan terlihat kesamaan pola pada perilaku merokok pada pria dan wanita. Hanya saja setelah dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap faktor-faktor yang mendorong untuk merokok terdapat sedikit perbedaan terhadap pola merokok pria dan wanita. Singkatnya, wanita lebih menganggap rokok layaknya pelengkap/asesoris seperti kalung, gelang, jam dan sebagainya juga sebagai pengontrol diri. Sedangkan pria menganggap rokok sebagai bentuk pencitraan diri mereka. Menurut WHO (1992), faktor yang mendorong remaja puteri untuk memulai merokok hingga menjadi dewasa yang perokok antara lain faktor sosial-kultur (sociocultural factor), faktor yang timbul dari diri sendiri (personal factor) dan pengaruh lingkungannya (environmental factor).

Faktor sosial-kultur (sociocultural factor) adalah pengaruh yang datang dari kehidupan seharinya dan budaya setempat, antara lain : kemudahan akses memperoleh rokok, adanya pengaruh orang tua dan pengaruh teman sepermainan. Negara Indonesia termasuk negara yang paling mudah untuk memperoleh rokok. Rokok dijual dengan bebas disemua wilayah, bahkan di lingkungan yang seharusnya tidak diperbolehkan terdapat rokok pun seperti sekolah dan rumah sakit dapat dengan mudah ditemukan penjual rokok. Hasil survei KuIS menunjukkan bahwa 34,75% perempuan usia 13 hingga 15 tahun mengaku mudah mendapatkan rokok, baik dari promosi maupun warung terdekat. Akibatnya lebih dari 88,78% wanita muda pernah merokok. Bahkan yang lebih membuat hati miris adalah saat anak-anak sekolah dasar yang masih berseragam dapat dengan mudah membeli rokok diwarung. Kemudahan mengakses rokok ini yang mendukung para perokok pemula untuk mendapatkan rokok.

Wanita secara hakiki dikodratkan menjadi ”pendidik” dalam kehidupannya. Dalam lingkungan keluarga, wanita kelak akan menjadi seorang ibu yang menjadi contoh bagi anak-anaknya kelak. Umumnya, setiap yang dikerjakan seorang ibu pasti akan dilakukan oleh anaknya. Seperti pribahasa ”buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Maka bila didapati seorang ibu yang merokok secara tidak langsung mengajarkan anaknya untuk merokok dan secara tersirat si ibu berkata ”nak, merokok itu baik loh”. Berdasarkan hasil penelitian KuIS yang dikutip oleh Nuryati (2008), orang tua yang merokok berperan sangat besar pada kebiasaan merokok pada wanita. Hal serupa juga diungkapkan oleh Aditama (1997) dimana kemungkinan menjadi perokok akan jauh lebih besar bila orang tuanya juga perokok. Bahkan dari penelitian KuIS ditemukan satu fakta menarik bahwa banyak remaja yang merokok bersama orang tua mereka. Hasil penelitian terhadap 3.040 responden wanita yang berusia 13 hingga 25 tahun ternyata 4,55% menyatakan ”kadang-kadang merokok bersama orang tuanya”. Maka kesimpulan dari penelitian tersebut adalah rata-rata wanita memulai merokok pada saat remaja di usia 14-15 tahun serta terdapat 7% wanita muda yang sudah menjadi perokok aktif.

Memiliki teman-teman yang merokok merupakan faktor amat penting bagi seorang remaja puteri untuk memulai merokok. Menurut WHO (1992), banyak remaja puteri memulai merokok akibat pengaruh teman sepermainan mereka. Bahkan sekitar 75% pengalaman pertama menghisap rokok pada remaja biasanya dilakukan bersama teman-temannya. Ketakutan bila ditolak keberadaannya, akan diisolasi dan diabaikan oleh teman-temannya membuat remaja ikut-ikutan merokok. Dilain pihak, remaja yang tidak merokok biasanya memiliki teman yang tidak merokok juga. Hal ini karena, teman-temannya membantu membangun kepercayaan diri antar sesama dan memperlihatkan bahwa tanpa rokok mereka bisa bersama-sama pula.

Faktor yang timbul dari dalam dirinya sendiri (personal factor) hal terkental yang dapat membuat sesorang memutuskan untuk merokok atau tidak. Hal ini terutama akan lebih mempengaruhi pada saat remaja, dimana masih mencari bentuk jati diri. Remaja putri memulai merokok tidak lain karena adanya pengaruh image-image yang dipaparkan oleh perusahaan rokok. Dimana perusahaan rokok menekankan bahwa wanita merokok akan lebih sexy, cantik, feminisme dan terlihat lebih dewasa sehingga remaja putri beranggapan bahwa dengan merokok mereka akan memperoleh predikat tersebut (Aditama, 1997). Hal lain yang mendorong remaja puteri untuk merokok yaitu mereka menganggap bahwa dengan merokok dapat menekan rasa gelisah dan stress.

Banyak wanita berpendapat bahwa rokok dapat membuat tubuh mereka lebih langsing sehingga akan merasa lebih percaya diri. Rokok membuat mereka langsing karena merokok sendiri dapat menekan nafsu makan. Semuanya disebabkan rokok membuat mereka menjauh dari makanan dan menekan rasa lapar sehingga membantu dietnya. Ada banyak penelitian yang menemukan bahwa perokok memiliki berat badan yang lebih rendah dari pada mereka yang merokok dan mantan perokok. Walaupun sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi secara langsung efek dari merokok terhadap metabolisme tubuh. Menurut WHO (1992) mengungkapkan sebuah penelitian pada hewan terhadap pengaruh asap rokok dan didapatkan hasil bahwa nikotin meningkatkan metabolisme rate baik pada saat istirahat maupun ketika beraktifitas. Penelitian lain tentang pengaruh asap rokok terhadap nafsu makan yang dilakukan oleh peneliti Melbourne dan Sydney menemukan sebuah senyawa kimia pada otak yang biasa dikenal sebagai neuropeptide Y (NPY) yang biasa bekerja sebagai pengatur nafsu makan ternyata dapat dipengaruhi kerjanya oleh asap rokok. Dimana dari hasil penelitian yang menggunakan tikus sebagai objek percobaan, didapatkan hasil bahwa tikus yang terekspos asap rokok cenderung mengalami penurunan tingkat NPY dalam hypothalamus di otak mereka, terutama bagian otak yang merespon selera makan. NPY secara normal berfungsi untuk meningkatkan selera makan pada otak sehingga peranan NPY sangat penting sekali bagi tubuh. Karena nafsu makan yang turun akibat asap rokok inilah yang sering disalah artikan oleh wanita. Maka teori ”merokok membuat langsing” semakin populer dan menggoda wanita lain yang tak merokok untuk mencoba merokok.

Dewasa ini semakin sering didapati wanita yang bekerja diluar rumah juga merokok. Wanita menjadi lebih banyak tekanan baik dirumah maupun dilingkungan pekerjaan. Akibatnya membuat wanita mudah stress, cemas dan tegang. Tidak jarang, wanita sulit mengungkapkan masalah yang dihadapinya sehingga sering terlarut dalam kesendirian. Hal inilah yang membuat wanita mencoba untuk merokok dengan anggapan rokok dapat digunakan sebagai penangkal stress, meredakan perasaan cemas dan dapat menenangkan jiwa saat sedang banyak masalah. Alasan yang sama juga terjadi pada remaja putri, dimana saat mereka ada masalah dengan teman sebaya atau keluarga, rokok menjadi ”teman” agar mereka melupakan masalahnya. Maka dalam situasi seperti inilah dibutuhkan peran serta ibu untuk menemani putrinya.

Faktor lingkungan (environmental factor) yang mendukung untuk merokok yaitu semakin gencarnya iklan promosi rokok. Seperti yang dapat dilihat disekitar kita saat ini, rokok sudah bagaikan raja dalam setiap acara. Perusahaan rokok rela mengeluarkan dana yang besar agar produk mereka dapat menjadi sponsor suatu acara. Hal ini tentu saja digunakan untuk lebih memasyarakatkan rokok. Bahkan acara-acara olahraga saat ini banyak menggunakan perusahaan rokok sebagai sponsor utama. Sehingga kesan negative pada rokok perlahan luntur dalam masyarakat. Dalam acara-acara yang disponsori rokok, biasanya perusahaan rokok akan menyediakan rokok secara cuma-cuma sebagai sampel pada setiap pengunjung. Hal ini yang membuat perokok pemula mulai mencoba merokok. Dari hasil penelitian KuIS diketahui sebanyak 70% remaja puteri dan wanita melihat promosi rokok ketika acara pentas musik, olahraga dan kegiatan sosial. Sebanyak 10,22% wanita berusia 13-15 tahun dan 14,53% wanita berusia 16-15 tahun pernah ditawari rokok gratis. Sebuah perusahaan rokok internasional di Amerika pernah mengungkapkan ”remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap yang potensial untuk hari esok”. Walaupun ada peraturan pemerintah (PP) No. 19/2003 telah melarang pembagian rokok secara gratis. Tetapi fakta yang ditemui dilapangan masih sering terjadi pembagian kupon diskon bahkan pembagian rokok gratis. Hal ini tentu memudahkan remaja untuk mengakses rokok sehingga perlahan-lahan menjadi perokok.

Pola penjualan rokok di Indonesia yang bisa dibeli secara eceran memudahkan para perokok pemula untuk mengakses rokok. Harga rokok yang murah dan dapat dibeli secara eceran juga mendorong perokok pemula untuk mencobanya. Perokok pemula yang umumnya adalah pelajar merasa dipermudah dengan membeli rokok secara eceran. Harga rokok eceran dijual mulai dari Rp 700,- hingga Rp 1.000,- per batang. Harga tersebut dinilai terlalu murah sehingga dapat dijangkau oleh pelajar yang belum memiliki penghasilan dan masih mengandalkan uang saku pemberian orang tua. Harga rokok yang murah dan adanya rasa penasaran untuk mencoba rokok saling mendukung untuk menjadikan remaja sebagai perokok pemula.

Adanya peraturan pemerintah DKI Jakarta perihal wilayah bebas rokok dinilai dapat menekan jumlah perokok pemula. Karena lingkungan yang penuh dengan perokok turut mengundang seseorang untuk memulai merokok (WHO, 1992). Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa orang tua yang merokok turut mempengaruhi anaknya untuk merokok. Hal ini dapat di wajarkan karena di dalam lingkungan perokok, mereka yang tidak merokok perlahan akan mempelajari cara merokok, mulai dari menyalakan, menghisap, memegang hingga mematikan rokok. Maka wajib hukumnya bila lingkungan sekolah termasuk dalam wilayah bebas asap rokok, karena selain di rumah, remaja menghabiskan sebagian waktunya di sekolah. Hal ini telah dibuktikan pada suatu riset di Amerika, dimana prevalensi merokok pada siswa lebih kecil jika sekolah tersebut menerapkan peraturan wilayah bebas asap merokok dibandingkan sekolah yang tidak memiliki peraturan wilayah bebas asap rokok. Bila di sekolah dibebaskan merokok maka siswanya secara tidak langsung mempelajari bagaimana caranya merokok dari orang-orang yang merokok dilingkungan sekolahnya. Karena hal tersebut berlangsung setiap hari, maka lambat laun siswa akan memulai mencoba rokok.

Saat ini informasi tentang bahaya rokok gencar dilakukan. Pemberian informasi tentang bahaya rokok diupayakan agar perokok lama sadar akan bahaya akan akan dihadapinya dan perokok pemula dapat mengurungkan niatnya untuk mencoba rokok. Hanya saja, mereka yang telah menjadi perokok, baik pria maupun wanita pasti akan merasa kesulitan bila ingin berhenti merokok. Maka bila sejak remaja sudah memulai merokok maka akan menjadi dewasa perokok pula. Menurut WHO (1992) penyebab wanita sulit lepas dari perilaku merokok bisa dilihat dari faktor psikologis dan psikososial. Faktor psikologis yang paling banyak dialami perokok wanita saat memulai gagal berhenti merokok karena adanya rasa kehilangan dari dirinya. Kebiasaan merokok yang telah berlangsung lama ternyata juga membentuk pola tingkah laku tersendiri sehingga saat mulai berhenti merokok akan terasa adanya kehilangan rutinitas sehari-hari. Ada pula yang gagal berhenti merokok dengan alasan adanya rasa kehilangan terhadap suatu benda yang dapat dipegang dan dimainkan. Banyak wanita yang kembali lagi merokok karena merasa berat badannya naik setelah berhenti merokok. Telah dijelaskan dalam paragraf sebelumnya mengapa rokok dapat membuat perokok lebih langsing.

Faktor psikososial yang menyebabkan gagalnya wanita berhenti merokok yaitu adanya kesan bahwa rokok dapat membantu mereka untuk melewati rasa kesepian, sedih, frustasi dan stress. Selain itu, hal lain yang mempengaruhi adalah adanya ketergantungan atau adiksi pada nikotin. Nikotin yang ada dalam asap rokok adalah suatu bahan yang menimbulkan ketagihan atau adiksi. Menurut Aditama (1997), dalam waktu tujuh detik setelah nikotin dihisap maka akan segera mencapai otak dan menimbulkan berbagai reaksi dalam susunan saraf. Kalau orang sudah merokok bertahun-tahun maka kadar nikotin dalam darahnya menjadi cukup tinggi. Maka saat orang tersebut mendadak berhenti merokok yang selanjutnya terjadi yaitu kadar nikotin dalam darahnya akan menurun. Bila nikotin tersebut turun secara drastis maka akan timbul keluhan berupa badan lemah, sakit kepala, gangguan pencernaan, kurang konsentrasi, lesu, sulit berfikir dan lain-lain. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah withdrawal symptom. Kondisi yang bersifat sementara ini yang banyak membuat ”calon” mantan perokok gagal berhenti merokok.

Tidak dapat dipungkiri bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Resiko untuk menderita kanker disisa hidup sebenarnya sudah banyak diketahui oleh perokok. Tetapi tetap saja perokok rela bila dirinya akan menjadi korban akibat rokok yang dihisapnya. Bagi wanita, rokok tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri. Semua wanita memiliki rahim dan akan menjadi ibu disaat dewasa. Maka bila ibunya seorang perokok, kerugian yang didapatkan bukan saja anaknya akan berpeluang merokok seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tetapi saat dalam kandungan pun anaknya juga mengalami berbagai gangguan akibat rokok. Menurut Aditama (1997), pada ibu hamil, rokok yang dihisap akan menggangu oksigenisasi di tubuh janin hal ini karena turut masuknya karbonmonoksida ke peredaran darah ke janin dalam kandungan. Selain itu, gizi ibu perokok menjadi lebih buruk karena karena kebiasaan merokok menekan nafsu makannya. Hal yang lebih parah yang dapat terjadi yaitu terganggunya tumbuh kembang janin karena nikotin merupakan zat vasokonstriktor yang dapat menggangu metabolisme protein dalam tubuh janin yang sedang berkembang, jantung janin juga lebih lambat berdenyutnya dan timbul gangguan pada sistem sarafnya. Kemungkinan terjadinya keguguran (abortus) juga lebih sering, bahkan sering terjadi komplikasi kehamilan. Saat dilahirkan, bayi dari ibu yang perokok berat akan dilahirkan 200 gram lebih rendah dari ibu yang tidak merokok, bahkan juga sering ditemukan kelainan bawaan lahir seperti kelainan pada kantup jantung. Efek buruk pada anak biasanya akan terus berlanjut bila ibunya tidak berhenti merokok. Karena pengaruh bahan-bahan dalam asap rokok seperti co, sianida, tiosinat, nikotin dan karbonik anhidrase, dapat menembus plasenta. Saat mulai menyusui ternyata jumlah dan mutu Air Susu Ibu (ASI) pada ibu perokok lebih rendah. Hal ini karena konsentrasi lemak dan asi menurun bahkan ditemukan adanya zat cotinine (derivat nikotin) dalam ASI hingga air seni bayinya. Saat anaknya beranjak dewasa, ternyata masih menyisakan dampak buruk akibat rokok yang dihisap ibunya. Anak akan mengalami gangguan tumbuh kembang mulai dari gangguan fisik, emosi hingga kecerdasannya. Anak dari ibu perokok memiliki kemampuan membaca dan berhitung yang lebih rendah. Selain itu 20-80% anak dari ibu perokok mengeluh sering batuk, flu dan sering terganggu saluran pernafasannya. Sehingga peluang terjadinya bronkitis dan infeksi paru menjadi dua kali lebih besar pada anak yang beribu perokok. Bahkan tinggi badan anak juga akan lebih pendek beberapa centimeter bila ibunya perokok.

Dari penjabaran penulis tentang wanita vs rokok diatas, maka dapat dilihat bahwa rokok tidak memberikan manfaat sedikit pun pada kehidupan wanita. Apa yang dijanjikan oleh rokok kesemuanya semu dan bersifat sementara. Bahkan rokok memberi dampak yang panjang tidak hanya pada wanita itu sendiri tetapi juga pada anak-anaknya. Mengingat wanita akan menjadi role model bagi anak-anaknya kelak maka akan lebih baik jika rokok tetap dianggap ”illegal” oleh masyarakat bila dikonsumsi oleh wanita. Sehingga rasa malu akan terus membututi wanita bila ia merokok. Diharapkan hal ini dapat menekan prevalensi wanita yang merokok. Semakin sedikit wanita yang merokok maka role model wanita perokok akan sedikit dan semakin sedikit pula anak-anak yang ingin mencoba merokok.


Sebelum cetak, semua ini di edit dulu. Ternyata gaya bahasa saya akademisi sekali katanya. heehee maklum pemula pak

DAFTAR PUSTAKA

1. Aditama, T. Y. 1997. Rokok dan Kesehatan. UI Press. Jakarta.

2. WHO. 1992. Women and Tobacco. WHO. Geneva.

3. WHO. 1996. Evaluating Tobacco Control Activities, Experiences and Guiding Principles. WHO. Geneva.

4. www.bisnis.com/Nuryati, S. 2008. Hampir 90% Wanita Muda Indonesia Merokok.

5. www. Okezone.com/Konserio, A. M. 2008. Survei Banyak Wanita Muda Merokok Dengan Orang Tua.

6. www.kespro.com

7. www.vhrmedia.com/Nugroho, H. 2009. Anak-anak Tersihir Iklan Rokok.

8. www.wikipedia.com

blogdetik-nya aria

Punya dua blog
Blog yang satu itu http://ariaaaaaaaa.blogdetik.com

Sebenernya bukan sok beken, sok pinter, sok keren punya dua blog. Tapi karena dikantor saya web blogspot ngak bisa diakses. Alhasil sekarang punya dua blog. Bisa ditebak lah blog mana yang paling aktif posting

Repost --> Cinta monyet sungguh ada


Para ilmuwan berhasil menemukan hormon cinta pada monyet yang disebut dengan oksitosin. Disebut hormon cinta karena oksitosin berperan mengatur aktivitas organ reproduksi dan perilaku sosial, seperti ikatan antarkelompok, ibu dan anak.

Oksitosin sebenarnya ditemui pada seluruh mamalia, tetapi oksitosin yang ditemukan pada monyet ini berbeda. Peneliti mengungkapkan, perbedaan itu terjadi karena gen yang bertanggung jawab dalam produksi hormon ini juga berbeda. Karen Parker, peniliti dari Stanford University yang terlibat penelitian ini mengatakan, penemuan ini adalah kali pertama oksitosin ditemukan berbeda dalam mamalia yang dipelajari. "Pandangan ortodoks mengatakan, semua mamalia memiliki oksitosin yang sama," ujarnya.

Penemuan hormon ini terjadi ketika Karen dan rekannya tengah berupaya mempelajari monyet di laboratorium. Mereka mengalami kesulitan saat ingin mengukur kadar oksitosin. Setelah melakukan analisis genetik, mereka mengetahui bahwa gen yang bertanggung jawab terhadap produksi oksitosin dalam monyet berbeda.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Biology Letters, Selasa (15/32011) kemarin. Parker mengatakan, ia dan timnya akan terus mempelajari aktivitas oksitosin ini untuk membandingkan efeknya dengan oksitosin yang dikenal selama ini.

Oksitosin sendiri adalah sebuah hormon yang diproduksi di bagian otak disebut kelenjar putuitari. Setelah diproduksi, hormon disebarkan lewat sistem sirkulasi tubuh, terutama menuju organ target. (Yunanto Wiji Utomo)

http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/756/cinta-monyet-sungguh-ada

Sabtu, 19 Maret 2011

laki-laki VS perempuan

Michael Guriaan dalam bukunya "What Could He Be Thinking? How a Man’s Mind Really Works" menjelaskan, perbedaan antara otak laki-laki dan perempuan terletak pada ukuran bagian-bagian otak, bagaimana bagian itu berhubungan serta cara kerjanya.

Perbedaan mendasar antar keduanya adalah :

1. Perbedaan spasial

Pada laki-laki otak cenderung berkembang dan memiliki spasial yang lebih kompleks seperti kemampuan perancangan mekanis, pengukuran penentuan arah abstraksi, dan manipulasi benda-benda fisik. Tak heran jika laki-laki suka sekali mengutak-atik kendaraan.

2. Perbedaan verbal

Daerah korteks otak pria lebih banyak tersedot untuk melakukan fungsi-fungsi spasial dan cenderung memberi porsi sedikit pada daerah korteksnya untuk memproduksi dan menggunakan kata-kata. Kumpulan saraf yang menghubungkan otak kiri-kanan atau corpus collosum otak laki-laki lebih kecil seperempat ketimbang otak perempuan. Bila otak pria hanya menggunakan belahan otak kanan, otak perempuan bisa memaksimalkan keduanya. Itulah mengapa perempuan lebih banyak bicara ketimbang pria. Dalam sebuah penelitian disebutkan, perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata per hari, sementara pria hanya 7.000 kata!

3. Perbedaan bahan kimia

Otak perempuan lebih banyak mengandung serotonin yang membuatnya bersikap tenang. Tak aneh jika wanita lebih kalem ketika menanggapi ancaman yang melibatkan fisik, sedangkan laki-laki lebih cepat naik pitam. Selain itu, otak perempuan juga memiliki oksitosin, yaitu zat yang mengikat manusia dengan manusia lain atau dengan benda lebih banyak. Dua hal inimempengaruhi kecenderungan biologis otak pria untuk tidak bertindak lebih dahulu ketimbang bicara. Ini berbeda dengan perempuan.

4. Memori lebih kecil

Pusat memori (hippocampus) pada otak perempuan lebih besar ketimbang pada otak pria. Ini bisa menjawab pertanyaan kenapa bila laki-laki mudah lupa, sementara wanita bisa mengingat segala detail

Masih ngebahas bedanya otak laki-laki dengan perempuan.

Di buku “Why Men Don’t Listen & Women Can’t Read Map” karangan Allan & Barbara Pease

Laki-laki dan perempuan itu sebenernya telah berevolusi secara fisik tapi masih membawa kebiasaan dari jaman purba. Sewaktu jaman purba tugas laki-laki berburu sedangkan perempuan tinggal di gua. laki-laki melindungi, perempuan mengurus anak. Sebagai akibatnya, tubuh dan otaknya pun berkembang mengikuti kebiasaan jaman purba ini. Selama jutaan tahun, struktur otak laki-laki dan perempuan terus berubah dengan caranya masing-masing. Sampailah pada jaman modern ini, di mana ternyata laki-laki dan perempuan itu berbeda dalam memproses informasi yang masuk ke otaknya. Jalan pikirannya memang berbeda. Pengertiannya akan suatu hal pun berbeda. Persepsi, prioritas dan tingkah lakunya juga beda.

Laki-laki cuman bisa melakukan satu hal pada suatu waktu. Otak laki-laki lebih terspesialiasi, terbagi-bagi. Otak laki-laki berkembang sedemikian sehingga mereka hanya dapat berkonsentrasi pada satu hal yang spesifik pada suatu saat. Contoh kasusnya, saat laki-laki menyetir jarang sekali yang melakukannya sambil ngobrol, telpon-telponan bahkan sms. Bila hal ini dilakukan tak jarang salah arah. Man can’t do more than one task at the same time

Jawabannya adalah karena sedikit sekali jaringan yang menghubungkan otak kiri dan kanan laki-laki.


Sementara otak perempuan punya konstruksi yang memungkinkannya melakukan banyak hal sekaligus. perempuan bisa melakukan banyak hal yang sama sekali nggak berhubungan pada waktu bersamaan, dan otaknya nggak pernah putus, selalu aktif. Perempuan bisa bicara di telpon, pada saat yang sama masak di dapur dan nonton TV. Atau dia bisa nyetir, dandan, dengerin radio dan bicara lewat hands-free.

Masih ada satu buku lagi yang jelasin perbedaan laki-laki-perempuan. Buku karangan John Gray yang judulnya “Men Are from Mars, Women Are from Venus”. Tapi berhubung ini malam minggu jadi saya mau buru-buru tidur dulu, mars dan venus-nya kita sambung lain waktu


http://ariaaaaaaaa.blogdetik.com/2011/03/19/laki-laki-vs-perempuan/

Nge’post lagi setelah 2 bulan terdampar di hutan

Akhirnya bisa nge-posting lagi..


Waktu menunjukkan pukul 08.00 WITA. Posisi saya sekarang lagi ada di mess perumahan WIKA, Balikpapan. Akhirnya bisa liat kota lagi setelah 2 bulan jadi penghuni hutan.


Kemarin saya baru aja keluar dari hutan di pelosok desa Muara Bunyut, Melak, Kalimantan Timur. Kalo dari Balikpapan kira-kira waktu tempuhnya 10 jam lewat darat.


3 hari sebelum keluar hutan, saya jadi agak labil. Makan Cuma 1 kali (siang aja), tidur jam 5 pagi trus bangun lagi jam 7 pagi tapiiiiiiiiiii ngak ngantuk dan lapar sama sekali. Hebat hebat hebat….


Dan pagi ini saya belum merasa lapar (padahal terakhir makan jam 11 siang kemarin dengan porsi kecil) dan ngak ngantuk sama sekali (kalo di flashback lagi, sehari sebelumnya saya tidur jam setengah 6 pagi trus bangun jam 7 pagi, lanjut OTW ke Balikpapan dengan bekal tidur-tidur ayam di bis trus tidur di mess jam 4 pagi bangun jam setengah 6 dan faktanya sampai sekarang kantuk dan lapar itu belum hadir saudara-saudara)


Alhasil setelah sampai kota, saya punya oleh-oleh mata panda karena kurang tidur dan asam lambung saya terasa meningkat akibat kurang makan. Bahkan chitato pun ngak bisa merangsang nafsu makan saya sama sekali.


Ngak tau kenapa bisa begini, yang saya tau saya butuh libur, berlibur, pengibur dan dihibur…


Oke oke happy vacation darling

Balikpapan, 19 Maret 2011

My beloved double bear

I have double bear, they are yogi bear and tahdie bear.

Bear, makasih banyak ya udah jadi pendengar cerita saya ketika galau lagi jadi gadis hutan. Senang rasanya kenal kalian.

Hei yogi bear-tahdie bear, dont give up yaa kamu. Bisa bisa bisa kamu pasti bisa, kita pasti bisa.

*kiss hugs*

Dearest Mr Bawel

I’m so sorry and thanks for everything.

Kamu sekarang pasti kecewa banget sama saya. Punya banyak pertanyaan dengan tanda tanya ber-double buat saya.

Saya kaget banget ketika tau kamu save semua chat kita
Saya kaget banget ketika tau kamu hapal semua kelakuan saya
Saya kaget banget ketika tau kamu hapal tiap tanggal-hari yang buat saya biasa tapi istimewa buat kamu
Saya kaget banget tiap kamu tiba-tiba datang cuma buat 2 bungkus chitato
Saya kaget banget tiap kamu hapal setiap “pasword” saat kita komunikasi
Saya kaget banget tiap kamu excited cari tau tentang saya
Saya kaget banget tiap kamu ngerasa feeling guilty tiap saya marah ke kamu
Saya kaget banget ketika tau kamu berusaha penuhin kebutuhan saya dengan suplai jauh dari kota
Saya kaget banget tiap kamu hapal semua mimpi-mimpi saya
Saya kaget banget sewaktu belum genap seminggu kenalan kamu menawarkan diri jadi pacar saya
Saya kaget banget ketika tau kamu beli no dan hp baru cuma buat komunikasi dengan saya
Saya kaget banget tiap kamu up date YM tentang saya
Saya kaget banget tiap kamu kagum akan kemampuan terbatas saya
Saya kaget banget ketika tau kamu berharap banyak ke saya

Kamu baik, sangat baik. Kamu sabar, walau pernah satu kali saya tangkap nada bicara kamu meninggi. Kamu care bahkan sangat care. kamu sopan. Kamu ramah. Kamu penyayang. Kamu terlalu manjain saya dan ini yang bikin saya takut kalo-kalo nanti jadi tergantung sama kamu.

Apa yang kamu kasih dan kamu bilang “kecil tapi berati besar” sebenarnya berati besar juga buat saya. Ini yang buat saya juga takut kalo-kalo nanti jadi tergantung sama kamu.

Kamu tanya kurang dimana semua pengorbanan kamu. Ngak ada satupun yang kurang buat saya.
Kamu tanya mau ngak saya jadi pacar kamu. Saya jawab ngak. Saya ngak pengen punya pacar yang cuma buat 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan, 6 bulan aja karena saya belum siap buat kehilangan lagi.
Kamu tanya apa saya trauma. Saya jawab ngak, padahal iya. Saya masih takut buat mulainya lagi. Takut buat kehilangan lagi. Takut sakit lagi.
Kamu tanya mau berapa lama saya akan sedingin ini. Saya jawab ngak tau. Karena saya ngak tau kalo ternyata jadi sedingin ini dan ngak tau kapan yang dingin ini menjadi hangat kembali
Kamu tanya apakah saya masih berharap sama abang. Saya jawab ngak. Karena saya bukan wanita bodoh yang mau jatuh berulang kali dikubangan yang sama
Kamu tanya apa bisa kita jalan bareng berdua aja. Saya jawab liat aja nanti. Karena saya pengen banget selama libur dirumah sama keluarga saya. Saya kangen mereka bukan ngak mau jalan sama kamu tapi lagi berbagi waktu dengan mereka. Jadi liat aja nanti.
Kamu tanya pernah ngak terbesit dalam pikiran saya buat pacaran sama kamu. Saya jawab ngak. Karena ketika tanpa sadar saya punya pemikiran seperti itu, tanpa sadar juga saya berharap sama kamu. Dan ini yang saya hindari dari awal “hidup tergantung sama kamu”

Saya usir kamu tiap malam dikantin bukan karena marah
Saya marah-marah sama kamu tiap malam dikantin bukan benar-benar marah
Saya cuma ngak suka “mengundang gosip” di area. Kalo kamu ada dirumah saya, ada orangtua saya mungkin saya ngak akan khawatir kalo kamu mau ngobrol sampai larut malam bahkan larut pagi.
Saya usir kamu tiap dateng jauh-jauh ke Adong bukan karena marah tapi saya tau gimana “seremnya” kondisi jalan Adong-Bunyut kalo malam.
Saya selalu jawab lupa tiap kamu tanya bagaimana hari-hari saya, bukan karena bener-bener lupa. Tapi saya belum siap kalo-kalo nanti jadi ketergantungan “absen” tiap malam ke kamu.

Saya selalu ngak tau harus jelasin dari mana tiap kamu tanya kenapa saya begini. Saya begini karena “cerita” yang dulu. “cerita” yang dulu itu membuat saya harus pelan-pelan belajar “menata” hati saya kembali.

Saya ngak pengen jadi’in kamu “obat” saat saya “sakit”
Saya ngak pengen jadi’in kamu “penghibur” saya saat saya “kesepian”
Saya ngak pengen manfaat’in “niat” kamu
Saya ngak pengen kalo-kalo dihari kedepannya kamu kecewa karena saya udah jadi’in kamu “obat”, “pengibur” dan merasa dimanfaat’in “niatnya”

Kalo pun nanti kamu ada disamping saya itu bukan sebagai “obat”, “pengibur” atau manfaatin “niat”
Kalo nanti kamu disamping saya karena saya siap berbagi sama kamu dan karena saya butuh kamu.

People you meet in your life and live on it, complete you like puzzle. People who come and go. They are just the wrong pieces

Sekarang kamu mau pergi atau tetap disini terserah sama kamu. Kalo kamu pergi ya mungkin saya “potongan puzzle” yang salah buat kamu. Kalo kamu mau tetap disini nunggu si puzzle itu lengkap, itu juga terserah kamu.

Kalo kamu pernah bilang tiap malam doanya semoga sinyalnya kuat. Kalau doa saya semoga Allah melimpahkan nikmat sehatnya buat kamu, jaga hati kamu tetap baik seperti ini biar kalo nanti ngak sama saya, kamu bisa berbagi nikmat sehat kamu buat menyenangkan orang lain dan tetap berbuat baik sama yang lainnya. Amin